Saturday, 13 July 2024

PEREMPUAN PENGRAJIN NOKEN TAK TUMBANG DITERPA PANDEMI

-

https://youtu.be/wxL4sIRMfw8
SORONG – Inilah suasana kehidupan puluhan kaum perempuan yang bermukim di kawasan kilometer 10 masuk kelurahan Matalamagi Kota Sorong Papua Barat. Walaupun bermukim jauh dari tempat asal mereka di Lembah Baliem Wamena Papua namun aktivitas para perempuan ini tak jauh dari tradisi dan adat istiadat yang diwariskan leluhurnya seperti menganyam noken dan Sali Su. Sali Su adalah bagian dari pakaian adat kaum perempuan Suku Dani. Bagian ini hanya dikenakan untuk menutupi tubuh bagian bawah saja seperti rok sementara bagian atas digunakan noken. Bahan baku pembuatan sali su sama dengan bahan dasar pembuatan noken yakni dari serat kulit pohon salah satunya dari kulit pohon Melinjo atau yang dikenal masyarakat Papua sebagai pohon Genemo.

Serat kulit pohon tersebut kemudian dikeringkan dan dipintal menjadi benang tali atau biasa disebut orok. Adapun untuk mewarnai orok digunakan pewarna noken yang diramu dari tumbuhan senggani yang dalam bahasa latin disebut Melastoma Kandidum. Setelah diberi warna orok kemudian dioles dengan abu dari tungku dapur. Hal ini dimaksudkan agar gulungan orok menjadi lebih rapi. Satu demi satu helai orok dirangkai sedemikan rupa hingga membentuk selembar sali su. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra karena proses pembuatan selembar sali su bisa menghabiskan waktu 3 sampai 5 bulan mengingat semua bahan baku diambil dari hutan. Demikian pula dengan pembuatan noken meskipun waktu pembuatannya lebih singkat tergantung ukuran dan motif.

Meski saat ini pandemi Covid-19 tengah melanda namun para pengrajin tetap setia merangkai setiap helai menjadi bentuk-bentuk yang bernilai. Hasil rangkaian tangan-tangan terampil para perempuan ini ada yang dijual ke pasar. Namun tak jarang hasil rajutan juga digunakan sendiri untuk pelaksanaan ritual adat.

-Tim Liputan Papua Channel-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru